Permasalahan Air Bersih di Indralaya dan Kaitannya dengan Lahan Basah

Sumber: shutterstock.com

JurnalPost.com – Permasalahan air bersih selalu menjadi hal yang membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah untuk keberlangsungan hidup penduduk di Indonesia, terutama Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir yang merupakan salah satu kabupaten dengan kerusakan sumber daya air tertinggi di Sumatera Selatan. Adapun yang menjadi permasalahan terus menerus adalah kurang tersedianya sumber air bersih, dan jika pun ada sumber air bersih tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat kurangnya berbagai sumber daya, dan juga belum meratanya pelayanan penyediaan air bersih.

Dilansir dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI Sumsel, 2016), Sumatera Selatan yang memiliki 1,2 juta ha lahan basah dari keseluruhan luas lahan 8,7 juta ha, merupakan lahan berkarakteristik gambut yang dapat dikatakan bermasalah terhadap ketersediaan sumber daya air terutama air bersih. Hal ini disebabkan kerusakan wilayah serapan air hutan dan lahan rawa akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan perkebunan sawit, pembukaan hutan industri, pertambangan batubara, dll.

Menurut hasil wawancara pada penelitian salah satu PDAM di Ogan Ilir oleh Rizki (2019), kebutuhan air bersih di Kecamatan Indralaya melalui PDAM yang bersumber dari Sungai Kelekar tersebut sudah terpenuhi sebanyak 31,2% untuk domestik dan non domestik. Kemudian, berdasarkan penelitian oleh Sunarsih, dkk. (2018), kualitas air sumur bor di daerah lahan basah yang belum mendapatkan PDAM yakni Desa Ibul Besar, Kecamatan Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, memiliki konsentrasi rata-rata kadmium (Cd) 0,027 mg/L, besi (Fe) 0,414 mg/L, dan mangan (Mn) 0,213 mg/L, yang mana masih memenuhi syarat baku kesehatan air dari Permenkes Nomor 32 Tahun 2017. Dengan kadar yang hanya sedikit berlebih dari bakunya ini, maka hanya memerlukan pengolahan air yang baik dan tepat untuk dapat dipakai masyarakat sehari-hari.

Baca Juga  Pengenalan Bahasa Inggris pada Anak Sejak Usia Dini

Hal ini menunjukkan bahwa walaupun Ogan Ilir khususnya Indralaya sebagian besarnya adalah lahan basah terlebih lahan gambut, air yang ada di wilayah tersebut ada yang aman dan layak dikonsumsi dengan pengolahan yang benar, dan ada juga yang sama sekali tidak dapat dipakai karena faktor kerusakan sumber air di pemukiman yang disebabkan berbagai pencemaran aktivitas manusia. Hal ini kembali lagi kepada kondisi pemukiman, sosial ekonomi masyarakat, hingga komitmen pemerintah setempat.

Beberapa teknik umum yang digunakan dalam pengelolaan air bersih di Indralaya yaitu :

  1. Pengambilan Sumber Air: Pemilihan sumber air yang bersih dan berkelanjutan seperti sungai, danau, atau mata air yang sesuai, dijaga dan diawasi dengan baik.
  2. Pengolahan Air: Air mentah dari sumbernya harus diolah untuk menghilangkan zat-zat pencemar dan mikroorganisme yang berpotensi berbahaya. Teknik pengolahan air meliputi penyaringan, koagulasi, flokulasi, dan pemakaian bahan kimia tertentu.
  3. Penyimpanan Air: Air yang telah diolah disimpan dalam tangki atau waduk yang bersih agar siap digunakan kapan saja.
  4. Distribusi Air: Air bersih didistribusikan melalui jaringan pipa ke rumah-rumah dan fasilitas-fasilitas masyarakat.
  5. Pengawasan Kualitas Air: Pemantauan dan pengujian berkala dilakukan untuk memastikan kualitas air tetap aman dan sesuai standar kesehatan.
  6. Perawatan Infrastruktur: Menjaga dan memperbaiki sistem distribusi air, termasuk perbaikan pipa dan infrastruktur lainnya.
  7. Pengelolaan Limbah: Mengelola air limbah secara efisien untuk mencegah pencemaran sumber air bersih.

Penulis:
Nabila Defitriyana Sari (10011282126116)
Nabilah Nandini (10011382126208)
Nasywa Alya Zahra (10011282126114)
Putri Nurmalasari (10011382126207)
Rizka Eka Febriani (10011282126115)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *